Kesalehan Ritual dan Kesalehan Sosial
Friday, January 21st, 2011Dalam versi keagamaan ada beberapa persepsi kesalehan, biasanya para ulama membagi tingkat kesalehan dalam dua kategori : Kesalehan Ritual dan Kesalehan Sosial. Biasanya krteria kesalehan ritual diukur dengan tingkat ketaatan seseorang dalam menjalankan ibadah, sholat, zikir, puasa dan banyak lagi yang polanya adalah pendekatan kepada Allah swt. Pendek kata kesalehan ritual dilihat dari ketaatan pada dogma ajaran agama. Sedangkan kesalehan sosial seseorang merupakan output sosialnya yaitu kasih sayang, saling menghargai, sikap demokrasi, suka membantu orang lain dll.
Dalam kehidupan manakah yang penting apakah kesalehan ritual dengan mengensampingkan hak orang lain, mengorbankan hak diri seseorang atau kah lebih mementingkan kesalehan sosial, menghargai dan membatu orang lain dengan cara meningggalkan dogma ajaran agamnya. Dalam sebuah hadist Rasullah telah menggambarkan hakekat kesalehan sosial. Seorang sahabat pernah memuji kesalehan orang lain di depan Kanjeng Nabi. “Mengapa ia kau sebut sangat saleh?” tanya Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW. “Soalnya, tiap saya masuk masjid ini dia sudah salat dengan khusyuk dan tiap saya sudah pulang, dia masih saja khusyuk berdoa.”
“Lho, lalu siapa yang memberinya makan dan minum?” tanya Kanjeng Nabi lagi.
“Kakaknya,” sahut sahabat tersebut. “Kakaknya itulah yang layak disebut saleh,” sahut Kanjeng Nabi lebih lanjut. Sahabat itu diam. Sebuah pengertian baru terbentuk dalam benaknya. Ukuran kesalehan, dengan begitu, menjadi lebih jelas diletakkan pada tindakan nyata. Kesalehan, jadinya, lalu dilihat dampak kongkretnya dalam kehidupan sosial.
Tentu saja, hanya kesalehan sosial yang bisa diukur dengan cara seperti itu. Dalam agama, sebenarnya kedua corak kesalehan itu merupakan wajah sebuah kemestian yang tak usah ditawar. Secara normatif, keduanya haruslah merupakan bagian hidup tiap-tiap hamba.
Kita, pendeknya, selalu diminta tampil ideal. Artinya, secara ritual kita saleh, secara sosial pun kita mestinya saleh juga. Maka, betapa pun pahitnya harus diakui bahwa memang, silang selisih antara mereka yang lebih menggarisbawahi kesalehan ritual dengan mereka yang lebih memilih kesalehan sosial masih bisa terjadi terus-menerus. Ini tak menjadi soal. Sebab, bukankah silang selisih itu sendiri merupakan sebuah dialog untuk mencapai takaran ideal itu juga?


Lewat sudah 40 hari meninggalknya gus dur, tapi masyarakat tetap mengenang beliau baik dari kaum santri abangan sampai santri priyayi dari Kaum Islam sampai dengan Kaum Lintas Agama. Sosok Gus Dur merupakan fenomena tersendiri pada abad ini khususnya di negara Indonesia. Beliau dikenal masyarakat sebgai pembela HAM yang gigih, pembela kaum marginal.