Memberhalakan Kejahatan

By Idham Halil. Filed in Opini  |  
TOP del.icio.us digg

Kalau doa saja digolongkan oleh Tuhan sebagai upaya terlemah, maka sikap apatis terhadap berbagai bentuk “berhala-berhala baru” atau ragam dosa dan kejahatan ekologi adalah bentuk lain dari kegagalan terbesar manusia.

SAAT menyaksikan amuk bumi atau gempa menyapa yang sepertinya tak kenal titik nadir, barangkali pertanyaan logis yang harus digugatkan pada diri kita ini adalah dosa atau kejahatan macam apakah yang sudah kita perbuat? Apakah selama ini kita sudah demikian terjerumus “memberhalakan” kejahatan, semacam kemungkaran, kemaksiatan, dan kekejian, sehingga bumi negeri ini marah besar?
Dosa merupakan identitas yang melekat dari perbuatan jahat, maksiat, zalim, atau melanggar norma agama. Semakin banyak dan beragam perbuatan jahat yang diperbuat dan diarogansikan manusia, semakin menjulang atau mengabsolutlah dosa yang diagendakannya.
Tuhan tak tinggal diam. Tuhan tak menoleransi siapapun dari hambanya yang sibuk memproduksi dosa-dosa. Tuhan lantas memberi peringatan dalam bentuk siksa atau azab, mulai dari yang kecil hingga besar. Ketika siksa kecil yang diturunkan tidak mempan atau tidak membuat jera manusia negeri ini, Tuhan mengirimkan yang lebih besar.
]Jika yang besar ini belum membuat manusia sadar, Tuhan mengirimkannya berulang-ulang. Mereka yang jadi korban bencana alam belum tentu menjabat atau berasal dari golongan pendosa. Mereka ini boleh jadi sebatas terkena limbah negatif dari perbuatan jahat yang dilakukan manusia lain.
Budaya berbuat jahat atau menimbun dosa-dosa itu tidak sulit ditemukan faktanya di tengah masyarakat dan dalam kehidupan bernegara. Kejahatan stadium akut ini akibat dukungan budaya birokrasi yang korup, masyarakat yang memilih jalur bisu, dan melemahnya kekuatan perlawanan dari kelompok kritis.
Pelaku kejahatan itu seperti kumpulan binatang yang sedang atau sudah kehilangan nuraninya atau mengidap ‘mati rasa’ kalau yang diperibuatnya adalah dosa kepada Tuhan maupun sesama manusia. Mereka terus menerus menyuburkan kejahatan dan memperlakukan kejahatan ini sebagai cermin gaya hidup maupun mediasi memperluas sumber pendapatannya.
Nyaris semua sektor kehidupan bermasyarakat dan berbangsa ini tidak sepi dari perbuatan dosa. Manusia berlomba memproduk dan mengumpulkan beragam dosa. Manusia bukannya bertobat atau jera tetapi justru arogan dan menyukainya. Mereka bahkan sibuk membuat dosa terbaru, yang dianggapnya sebagai wujud kreasi dan kemajuan intelektualitasnya.
Meski Tuhan sudah berkali-kali mengirimkan peringatan lewat “bumi bergoncang”, manusia tetap saja membuat dosa-dosanya terus menjulang. Dosa dan kejahatan dianggap sebagai kreasi modernitas paling berani, yang ditempatkanya sebagai bagian konkret sejarah kehidupannya yang layak dikenang.
Ironisnya, tidak sedikit di antara kita yang memilih sikap diam atau meng-amini atas berlangsung dan berjayanya kejahatan di lingkungan atau di depan mata. Kita tidak cepat beeaksi ketika kejahatan mulai menggeliat dan tumbuh subur. Fatalnya, kita memilih mendukungnya karena menilai kalau kejahatan ini mendatangkan keuntungan ekonomi, budaya, dan politik.
Kalau sudah begitu, dosa-dosa anak bangsa ini pastilah menjulang tinggi, karena berada di berbagai sektor strategis hingga yang sepele. Dosa demikian dimanjakan, dipuja, dibudayakan, dan diberhalakan. Cendekiawan muslim kenamaan Imaduddin Abdurrahim pernah menyebut, dalam kehidupan masyarakat modern ini, manusia gampang terjebak punya “tuhan triple ta”, yakni tuhan tahta, tuhan harta, dan tuhan wanita.
Baru dalam ketiga “tuhan” itu saja, manusia Indonesia sudah lekat bergelimang dosa dan kejahatan, apalagi dengan tuhan lainnya yang sudah diberhalakan seperti “tuhan budaya, tuhan politik, tuhan ekonomi, tuhan pornografsi dan pornoaaksi, dan tuhan seni, yang menyatu dengan raga. Bisa jadi, dosa-dosa sekadar nyanyian kosong.
Dosa dan kejahatan telah mendapatkan pengesahan yang diberhalakan demikian kuat akibat elemen sosial yang gagal menjadi kekuatan oposisi. Kemiskinan jiwa oposisi ini menjadi akar kriminogen yang mendorong kejahatan semakin superior dan memberdaya sebagai kekuatan yang ditakuti.
Akibatnya, manusia bukannya takut dengan Tuhan, tapi lebih takut dengan agregasi koalisi kejahatan di sekitarnya. Manusia lebih takut terhadap kemungkinan amuk alam akibat kerusakan ekologis yang parah. Kasus seperti itu sudah pernah diingatkan oleh fisikawan Albert Enstein, bahwa “dunia ini akan semakin tidak aman bukan disebabkan oleh perilaku kejahatan dari penjahat, tetapi akibat perilaku kita yang mendiamkan penjahat (leluasa) melakukan kejahatannya”.
Faktanya, kita sudah lama diam, membisu, atau gampang tidak bersuara dengan banyaknya kejahatan, kemaksiatan, dan kemunkaran di sekitar kita, baik kemungkaran atas nama budaya, individual maupun struktural. Kita mendiamkan hutan dijarah, dirusak, dan bumi disakiti demikian parah, yang mengakibatkan mereka menderita, dan
sakit.

Sabda Nabi Muhammad SAW,”Barangsiapa mengetahui kemungkaran (kejahatan), maka ubahlah dengan tanganmu (kekuasaanmu), dan jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisanmu, dan jika dengan lisanmu ini tetap tidak mampu, maka berdoalah, meskipun yang demikian ini termasuk selemah-lemahnya iman”.
Sabda ini mengingatkan, tahapan terlemah dalam upaya menanggulangi perbuatan jahat di masyarakat adalah berdoa. Doa adalah cermin sikap pasrah yang secara langsung berelasi dengan Tuhan, yang menyerahkan urusan perubahan kepada Tuhan. Kepasrahan manusia tanpa usaha konkrit ini memposisikannya secara pasip sebagai subjek yang gagal.
Kalau doa saja digolongkan oleh Tuhan sebagai upaya terlemah, maka sikap apatis terhadap berbagai bentuk “berhala-berhala baru” atau ragam dosa dan kejahatan ekologi adalah bentuk lain dari kegagalan terbesar manusia. Kalau tahapan ini benar-benar sudah dalam stadium akut, barangkali pasca-gempang bumi Padang ini, Tuhan masih akan memproduk azabNya lagi, yang bukan tidak mungkin lebih eksposif.

Leave a Reply