Menanggapi Buku Kiai di Tengah Pusaran Politik, antara Petaka dan Kuasa
By Idham Halil. Filed in Teras Diri |Bebarapa hari yang lalu di Radar Madura (Jawa Pos) kita disuguhkan berita pembangkaran buku Kiai di Tengah Pusaran Politik, antara Petaka dan Kuasa karya Ibnu Hajar yang dilakukan oleh kalangan pondok pesantren yang kontra dengan buku tersebut.
Kemarahan santri dan mahasiswa itu disampaikan dalam aksi turun jalan yang dilakukan oleh Aliansi Mahasiswa Peduli Kyai (AMPK) Sumenep, yang ditempatkan di Taman Adipura depan Masjid Agung Sumenep. Massa tidak saja menghujat penulis buku dengan poster, tetapi juga membakar buku terbitan IRCiSod, Yogyakarta itu.
Komunitas kiai merupakan sesuatu yang sangat khas dalam masyarakat khususnya NU. Mereka bukan saja menjadi panutan dalam kehidupan beragama, tetapi juga dalam kehidupan sosial yang lain, termasuk dalam kehidupan politik. Dalam istilah Peter L Berger (1991) mereka mempunyai hubungan dialektis dengan masyarakat di sekitarnya. Artinya, di satu pihak kiai merupakan produk struktur sosial, namun di lain pihak kiai juga mempunyai peran untuk membentuk struktur sosial. Dengan demikian,dalam perspektif Berger, terdapat hubungan timbal balik antara kiai dan struktur masyarakat di sekitarnya. Masalahnya kemudian adalah bagaimana bentuk dialektika antara kiai, politik dan masyarakat pada saat ini.
Bagaimanapun Kiai adalah pengemban amanah dari nabi yang nota bene mempunyai tanggung jawab dalam segi sosial dalam bahasa kerennya Kiai adalah Social Contral dan urat nadi Penguatan Civil Society. Begitu Ibnu hajar meluncurkan buku Kiai di Tengah Pusaran Politik ada sebagian komunitas kiai (mungkin kiai politik) kebekaran jenggot dan menggugat lewat pembakaran buku Kiai di Tengah Pusaran Politik, antara Petaka dan Kuasa.
Bagi saya sudah saatnya komunitas kiai NU kembali ke khittahnya, kembali kebilik bilik santri mengajarkan tentang akhlakul kharimah, mengedepankan fungsi kontrol sosialnya daripada terjun keranah politik yang kita tahu penuh permainan licik dan culas, tetapi bukan berarti Kiai tidak boleh berpolitik. yang perlu dikembangkan oleh komunitas Kiai (khususnya NU ) bukanlah “politik kekuasaan” yang cenderung menguntungkan para elitenya, melainkan yang jauh lebih fundamental adalah “politik kewargaan” yang coba berjuang bagi terentasnya masyarakat islam khususnya warga NU dari belitan penderitaan dan kemiskinan yang selama ini menderanya.
Untuk para kiai janganlah larut dengan Arus Politik kembali ke Surau Surau bermunajahlah, berzikirlah dengan tasbih jangan dengan HP dan Salut buat Ibnu Hajar yang telah bisa menterjemahkan kegelisahan masyarakat lewat buku Kiai di Tengah Pusaran Politik, antara Petaka dan Kuasa yang membakar buku tersebut mungkin ingin bernostalgia dengan jaman ORDE BARU. Sekian dulu………



Thursday, October 1st 2009 at 10:44 |
muslim yg menjalankan ibadah pd Alloh udah gk sesuai dg tuntunan Alloh Rosul/para nabi. kalo hukum islamnya tetep murni tp sebagian belum tau hukum islam yg murni
Thursday, October 1st 2009 at 10:36 |
antara politik dg norma agama jgn disamakan, jelas beda. jgn dicampur aduk bisa2 hukum agama gk sesuai dg tuntunan para nabi. buktinya sekarang byk amalan2 yg dilakukn para muslim gk sesuai dg al qur’an & al hadis alias bid’ah, gk ada bid’ah hasanah, jk muslim melakukn bid’ah semua amalan wajibnya amalan sunnahnya akan ditolak oleh Alloh.
Wednesday, September 30th 2009 at 15:58 |
jd kholifah gk sama dg politik mas, kholifah itu pemimpin dlm urusan agama, jk umat islam gk tau hukum dlm islam bertanya pd kholifah.gpp kyai terjun k politik, yg penting kyai bisa ngajar langsung ke santri2 nya sbb byk kyai yg lupa pd santrinya, krn sibuk politik, pake mobil mewah sambil megang HP
Wednesday, September 30th 2009 at 15:51 |
di mata Alloh, dunia gk ada artinya, kehidupan yg kekal adalah di akhirat nanti.dunia adalah tpt utk beribadah, mencari amalan utk akhirat. sbb ssd mati ada surga ada neraka, manusia yg nentukan mau surga apa neraka.
Wednesday, September 30th 2009 at 15:45 |
sudah saatnya kyai kembali ke pandok pesantren utk mengajarkan sunnah2 Nabi, bgmn mjd santri2 yg berakhlaq karimah, taqorrub pd Alloh. sekarang byk kyai2 terjun k politik, politik bukan tptnya kyai sbb semua politik gk ada yg jujur, krn politik or yg jujur bisa berdusta demi sedikit uang
Friday, August 7th 2009 at 18:57 |
kiai trjun d dunia politk it wajar2 saja,sayyidina abu bakar as-siddiq dan sahabat lainx yg menjd kholifah it sdh bs jd pedoman,dan pekerjaan akhrt it bkn cm shalat,dzikr,
Tuesday, April 21st 2009 at 08:15 |
Platform Ulama memang beda dengan politis. Ulama mengayom masyarakat sedangkan politis diayomi masyarakat ( maksudnya minta di ladeni Rakyat)
Friday, April 17th 2009 at 22:44 |
Mnanggpi hal sprti it mas ibnu emg bnar.Knp?Krn kbnyakn seorang kiai yg trjun kpolitik mreka bnyak g mngusai tntg kperinthn,sdngkn kpmerinthn yg demokratis sudh jls2 bd dg ajrn islam,mskpun mmakai islam politik/politik islam,it tetp brtntangan dg demokrasi yg ada.