Parade Kebohongan dan Kepura-puraan

By Idham Halil. Filed in Warta  |  
TOP del.icio.us digg

Kampanye Pilpres di Indonesia, semuanya bisa dijadikan jualan untuk meraih simpati public. Termasuk juga jualan agama. Sesuatu yang tidak terbiasa dikerjakan akan dipaksakan dan dicitrakan sebagai telah terbiasa dikerjakannya.

Mereka yang jarang menginjakkan kakinya di atas sajadah, bahkan menjadi terlihat rajin pergi ke masjid, asalkan ada wartawan yang meliputnya. Bahkan akan dibuat sedemikian rupa agar yang bersangkutan duduknya di barisan paling depan.

Mereka yang tidak biasa mengerjakan sholat Jumat berjamaah akan berupaya untuk mengundang wartawan agar menyiarkannya bahwa dirinya rajin sholat Jumat berjamaah. Mereka yang tidak biasa mengikuti majelis pengajian akan menghadiri majelis pengajian. Mereka yang tidak biasa memakai jilbab akan memakai jilbab pada saat disorot kamera televisi. Bahkan ibadah umroh pun menjadi diperuntukkan hanya sebagai daya tarik untuk konstituen pemilihnya saja.

Agama dihinakan hanya sebagai barang mainan layaknya., Simbol-simbol agama dilecehkan hanya sebagai pencitraan sementara selama kampanye saja. Ujub dan riya menjadi diperbolehkan atas nama pencitraan kesolehan dalam menjalankan ajaran agama.

Walau semua itu serba dusta, kemunafikan, kebohongan, hanya bagaikan drama sandiwara yang kepura-puraan belaka. Sampai kapan rakyat hanya akan dijadikan obyek sebuah kedustaan dan kepura-puraan ?.

Orang-orang pun tak lagi sungkan untuk berkata bohong dan mantap untuk berbicara dusta, hanya untuk membela capres cawapres yang didukungnya, serta meraih kekuasaan duniawi. Padahal berdusta itu besar sekali dosanya di mata Allah SWT.

“Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta”. [QS Adz Dzaariyaat:10]

“Suatu khianat besar bila kamu berbicara kepada kawanmu dan dia mempercayai kamu sepenuhnya padahal dalam pembicaraan itu kamu berbohong kepadanya”. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

“Hendaklah kamu selalu benar. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga. Selama seorang benar dan selalu memilih kebenaran dia tercatat di sisi Allah seorang yang benar (jujur). Hati-hatilah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta (pembohong)”. (HR. Bukhari).

Terlepas dari kepura-puraan dan pencitraan, dalam Pilpres kali ini sungguh menarik untuk diamati, apakah politik aliran dan ideologi Islam politik memang benar telah mati ?.

Apakah perempuan berjilbab akan lebih menarik simpati dibandingkan dengan perempuan tak berjilbab yang belum bisa mengaji ?.

Apakah selembar kain yang dinamai Jilbab akan tak lagi punya arti ?.

Apakah keinginan akan sebuah perubahan yang menuju kearah kemandirian bangsa akan terkalahkan oleh sebuah mantra ajaib ” I Love the United States, with All its Faults. I consider it My Second Country ”.

Wallahualambishshawab.

2 Comments

  1. Comment by yanto:

    ada caleg yg kerjanya sering ikut lomba burung merpati jd caleg krn punya modal 120 jt tuk memperoleh 12 rb suara, 1 orang 10 rb

  2. Comment by yanto:

    semua caleg di th 2009 sebagian ada yg pake politik uang minimal punya duit 120 juta utk jd caleg kabupaten, utk memperoleh 12.000 suara

Trackbacks / Pingbacks

Leave a Reply