D. Zawawi Imron

Kumpulan Puisi “Berlayar di Pamor Badik”

Kilat badikmu

menghela senyum

ke

gigir Waktu

Wajahmu

Wajahmu kulukis

di rawa – rawa

Kau pun menyanyi

dalam hati ombak yang bisu

Karena sujudmu pada dahiku

kupilih rumah di tebing – tebing

Aku pun menari

dalam lidah api yang biru

Wajahmu kulukis

dengan badik

Hutan, laut dan langit

semakin nyalamMenyambut hatimu di kuncup bunga

Hanya Seutas Pamor Badik

Dalam tubuhku kau nyalakan dahaga hijau

Darah terbakar nyaris ke nyawa

Kucari hutan

sambil berdayung di hati malam

Bintang-bintang mengantuk

menunggu giliran matahari

Ketika kau tegak merintis pagi

selaku musafir kucoba mengerti:

Ternyata aku bukan pengembara

Kata-kata dan peristiwa

telah lebur pada makna

dalam aroma rimba dan waktu

Hanya seutas pamor badik, tapi

tak kunjung selesai kulayani

Senja di Pantai Bojo

Langit menggeliat tiba – tiba

Ketika azan di ayunkan pohon-pohon kelapa

perahu yang berlayar ke langit

tiangnya semakin bisu

Bugis, nama tempat telur menetas itu

Darah yang menetes

tak seluruhnya punya nestapa

Segalanya telah sempurna

tapi serasa belum selesai

Sebentuk sujud memutih

dan laut pun turun ke dasarnya

bersama bintang-bintang

Amboi, lihatlah itu di belakang karang

Seekor cumi-cumi

sedang meninabobokan matahari

Lagu Laut

Sampaikan salamku, wahai kecipak laut!

Pada bumi Bugisku yang hangat

Perahuku teramat jauh kini berlayar

Kutembangkan siul di tengah jerit lautan

Dan langit

tempat melukis hati gadisku

di mana saja birunya

Karena kesetiaan perlu diuji

oleh jarak, topan dan cakrawala

Semua gelombang biarkan terus menggebu

Paling-paling jadi gambar tenun sarungku

Dan sekian karang

bisa dihindar dengan kemudi

Ibu, alangkah jauhnya Sinjai

Meski tanpa tali temali

Engkau tetap tambatan

Dan kalau malang perahuku karam

Kuyakin hatimu, ibu

adalah kuburku yang sebenarnya

Selalu Laut

Mengapa selalu laut

yang kusebut dalam nyanyian?

Dalam kabut yang gelap

kulihat rohku seperti ikan

Yang berenang tak punya rumah

Hanya air

asal mula dan akhir perjalanan

dan perang telah berlangsung

dalam sajak atau kehendak

kemudian ditiru ombak


Comments are closed.