<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>:. idhamhalil .: &#187; nu</title>
	<atom:link href="http://idhamhalil.web.id/tag/nu/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://idhamhalil.web.id</link>
	<description>d@eng m@kassik</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Jan 2012 11:41:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Kyai di Persimpangan Jalan antara Pesantren dan Politik</title>
		<link>http://idhamhalil.web.id/kyai-di-persimpangan-jalan-antara-pesantren-dan-politik</link>
		<comments>http://idhamhalil.web.id/kyai-di-persimpangan-jalan-antara-pesantren-dan-politik#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 08:03:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idham Halil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teras Diri]]></category>
		<category><![CDATA[kyai]]></category>
		<category><![CDATA[nu]]></category>
		<category><![CDATA[pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idhamhalil.web.id/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Istilah Kyai dalam tataran masyarakat indonesia tidak hanya bermakna ahli dalam agama tetapi jika ditinjau dari makna antropologis bahwa kyai adalah orang yang mampu dalam segala tataran masalah kehidupan sekaligus juga sebagai kontrol sosial, dari ahli agama sampai ahli cocok tanam. Kyai bagi masyarakat adalah orang pilih tanding. Pesantren merupakan lembaga non formal tertua dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Istilah Kyai dalam tataran masyarakat indonesia tidak hanya bermakna ahli dalam agama tetapi jika ditinjau dari makna antropologis bahwa kyai adalah orang yang mampu dalam segala tataran masalah kehidupan sekaligus juga sebagai kontrol sosial, dari ahli agama sampai ahli cocok tanam. Kyai bagi masyarakat adalah orang pilih tanding.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FI">Pesantren merupakan lembaga non formal tertua dalam tradisi pendidikan agama islam di indonesia, dimana pesantren tempat membina, mendidik santri sehingga mampu dan ahli dalam agama sekaligus menjadi manusia yang memanusiakan manusia (Pakuhumanika).Selain itu, pesantren mampu menjadi agen perubahan sosial dalam pembangunan masyarakat. </span><span lang="SV">Hal tersebut semata-mata karena kedekatannya dengan masyarakat akar rumput dan sampai sekarangpun pesantren tetap menarik untuk diteliti dan dikaji. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"><span id="more-45"></span>Politik yang berasal dai Yunani yang mempunyai makna berkaitan dengan serba keteraturan, keindahan dan kesopanan bagi rakyat.Lebih dari itu politik juga dapat diartikan bagaimana cara mengatur tata pemerintahan sehingga dapat mensejahterakan rakyat. Begitu mulia politik sehingga Aristoteles mengatakan bahwa politik adalah Seni Tertinggi untuk mewujudkan kebersamaan sehingga menjadi masyarakat sejahtera dan damai. Tapi realita sekarang politik lebih cenderung diartikan sebagai ajang perkelahian, menjadi seorang gladiator untuk mengalahkan sekaligus menginjak orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Banyak orang mengangap bahwa kyai dan dunia pesantren merupakan satu hal yang bersifat homogen padahal jika kita telaah lebih dalam kita akan tahu bahwa antara kyai dan pesantren memiliki corak keragaman baik dari segi metodologi pembelajaran yang dikembangkan, mazhab yang dianut dan bahkan pilihan poltik yang diambilpun banyak berbeda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FI">Kembali kembali kejudul diatas kyai di persimpangan jalan antara pesantren dan politik. Saya melihat sekarang ada beberapa kyai (sebagian kecil) khususnya Kyai NU sudah merasa jenuh dengan permainan politik dan mulai kembali ke lingkungan pesantren tetapi mereka dilematis seperti sisi mata uang yang berbeda. Satu sisi sudah capek dengan politik dan ingin kembali ke khittahnya tapi di sisi lain mereka masih dibutuhkan oleh kyai lain yang asyik berpolitik. Fenomena diatas bisa kita lihat dilingkungan kita sendiri (pengalaman saya). Ada satu Kyai Pesantren (walapun sekelas kyai kampung) dia merasa sewaktu menjadi wakil rakyat justru menjauhkan dia dari dunia pesantren karena kesibukannya dengan eksekutif, dia terlena dengan jargon jargon pejabat sehingga dinina bobokkan oleh kemewahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FI">Untuk Kyai yang masih berpolitik marilah kembali ke Khittahnya yaitu dunia pesantren. Walaupun politik dalam islam memang bukan haram hukumnya, tapi yang jelas dunia politik menurut saya bukanlah dunia para Kyai khususnya kyai sepuh,ongkos moralnya sangat mahal bagi martabat kyai. </span><span lang="SV">Permainan politik dan perebutan kekuasaan hanya berlangsung pendek. Sementara tradisi dunia pesantren dengan jajaran kyainya telah berumur ratusan tahun. Jangan aset ini terdevaluasi dan tercoreng oleh godaan permainan politik sesaat. Politik itu ibarat permainan Panjat Pinang dimana yang dikorbankan tetap orang bawah (rakyat kecil) yang atas tetap berpesta pora, Janganlah Kyai dengan Dunia Pesantrennya Ibarat mendorong mobil mogok, kalau mobilnya sudah hidup yang dibelakang agak ditinggalkan. Sekali Lagi Untuk para Kyai emani pesantrennya yang sudah mengakar dalam masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Sorry tulisan ini mungkin kalimatnya loncat-loncat tapi ini sekedar kata hati saya yang sudah apatis dan pesimis dengan Kyai yang terjun dalam DUNIA POLITIK.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FI">Cukup sekian dulu&#8230;&#8230;</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idhamhalil.web.id/kyai-di-persimpangan-jalan-antara-pesantren-dan-politik/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menanggapi Buku Kiai di Tengah Pusaran Politik, antara Petaka dan Kuasa</title>
		<link>http://idhamhalil.web.id/menanggapi-buku-kiai-di-tengah-pusaran-politik-antara-petaka-dan-kuasa</link>
		<comments>http://idhamhalil.web.id/menanggapi-buku-kiai-di-tengah-pusaran-politik-antara-petaka-dan-kuasa#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 07:28:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idham Halil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teras Diri]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[khittah]]></category>
		<category><![CDATA[kyai]]></category>
		<category><![CDATA[nu]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[radar madura]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idhamhalil.web.id/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Bebarapa hari yang lalu di Radar Madura (Jawa Pos) kita disuguhkan berita pembangkaran buku Kiai di Tengah Pusaran Politik, antara Petaka dan Kuasa karya Ibnu Hajar yang dilakukan oleh kalangan pondok pesantren yang kontra dengan buku tersebut. Kemarahan santri dan mahasiswa itu disampaikan dalam aksi turun jalan yang dilakukan oleh Aliansi Mahasiswa Peduli Kyai (AMPK) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;">Bebarapa hari yang lalu di Radar Madura (Jawa Pos) kita disuguhkan berita  pembangkaran buku Kiai di Tengah Pusaran Politik, antara Petaka dan Kuasa karya  Ibnu Hajar yang dilakukan oleh kalangan pondok pesantren yang kontra dengan buku  tersebut.</div>
<div class="fullpost">
<div style="text-align: justify;">Kemarahan santri dan mahasiswa itu disampaikan  dalam aksi turun jalan yang dilakukan oleh Aliansi Mahasiswa Peduli Kyai (AMPK)  Sumenep, yang ditempatkan di Taman Adipura depan Masjid Agung Sumenep. Massa  tidak saja menghujat penulis buku dengan poster, tetapi juga membakar buku  terbitan IRCiSod, Yogyakarta itu.</div>
<div style="text-align: justify;"><span id="more-25"></span></div>
<div style="text-align: justify;">Komunitas kiai merupakan sesuatu yang sangat  khas dalam masyarakat khususnya NU. Mereka bukan saja menjadi panutan dalam  kehidupan beragama, tetapi juga dalam kehidupan sosial yang lain, termasuk dalam  kehidupan politik. Dalam istilah Peter L Berger (1991) mereka mempunyai hubungan  dialektis dengan masyarakat di sekitarnya. Artinya, di satu pihak kiai merupakan  produk struktur sosial, namun di lain pihak kiai juga mempunyai peran untuk  membentuk struktur sosial. Dengan demikian,dalam perspektif Berger, terdapat  hubungan timbal balik antara kiai dan struktur masyarakat di sekitarnya.  Masalahnya kemudian adalah bagaimana bentuk dialektika antara kiai, politik dan  masyarakat pada saat ini.</div>
<div style="text-align: justify;">Bagaimanapun Kiai adalah pengemban amanah dari  nabi yang nota bene mempunyai tanggung jawab dalam segi sosial dalam bahasa  kerennya Kiai adalah Social Contral dan urat nadi Penguatan Civil Society.  Begitu Ibnu hajar meluncurkan buku Kiai di Tengah Pusaran Politik ada sebagian  komunitas kiai (mungkin kiai politik) kebekaran jenggot dan menggugat lewat  pembakaran buku Kiai di Tengah Pusaran Politik, antara Petaka dan  Kuasa.</div>
<div style="text-align: justify;">Bagi saya sudah saatnya komunitas kiai NU  kembali ke khittahnya, kembali kebilik bilik santri mengajarkan tentang akhlakul  kharimah, mengedepankan fungsi kontrol sosialnya daripada terjun keranah politik  yang kita tahu penuh permainan licik dan culas, tetapi bukan berarti Kiai tidak  boleh berpolitik. yang perlu dikembangkan oleh komunitas Kiai (khususnya NU )  bukanlah <span style="font-style: italic;">“politik kekuasaan”</span> yang  cenderung menguntungkan para elitenya, melainkan yang jauh lebih fundamental  adalah <span style="font-style: italic;">“politik kewargaan”</span> yang coba  berjuang bagi terentasnya masyarakat islam khususnya warga NU dari belitan  penderitaan dan kemiskinan yang selama ini menderanya.</p>
<p>Untuk para kiai  janganlah larut dengan Arus Politik kembali ke Surau Surau bermunajahlah,  berzikirlah dengan tasbih jangan dengan HP dan Salut buat Ibnu Hajar yang telah  bisa menterjemahkan kegelisahan masyarakat lewat buku Kiai di Tengah Pusaran  Politik, antara Petaka dan Kuasa yang membakar buku tersebut mungkin ingin  bernostalgia dengan jaman ORDE BARU. Sekian dulu&#8230;&#8230;&#8230;</p></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idhamhalil.web.id/menanggapi-buku-kiai-di-tengah-pusaran-politik-antara-petaka-dan-kuasa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

