Tag Archive
al firdaus batang-2 blog anak sapeken buku caleg dapil 7 demokrasi fatwa mui gaya hidup istilah janji politik jumlah caleg kampanye kepulaun kangean khittah kunjungan kyai launching lokal madura menteri kehutanan nu parpol pemilu pesantren pns politik produk produk dalam negeri Puisi puisi d.zawawi imron pulau radar madura rakyat sapardi djoko damono sapeken sastra selamat datang sepatu seremonial shopaholic si clurit emas sumene madura tki wapres
PNS Boleh Ikut Kampanye Asal Jangan Pakai Seragam
Ini kabar gembira PNS yang biasa bermain- main dengan politik , Mendagri memberi sedikit kelonggaran PNS yang mau ikut kampanye dipersilahkan untuk hadir tapi dengan satu persyaratan tidak boleh datang dengan meggunakan baju kebesaran PNSĀ alasannya takut disangka ada mobilsasi.
Baju kita itu coklat, kalau berkelompok-kelompok langsung kelihatan. Sebagai PNS, boleh saja kita ikutan kampanye. Tetapi sendiri saja. Jangan pakai baju PNS ramai-ramai di tempat yang sama. Nanti dikira ada yang memobilisasi,” kata Mendagri Mardiyanto.
Hal ini disampaikan dia saat memberikan pembekalan kepada Panwaslu, KPUD, Pemda se-Indonesia, di Balai Samudera, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (12/3/2009).
Secara pribadi bagaimanapun PNS mempunyai hak politik juga untuk memilih, tapi mendagri meminta jangan sampai terjebak dalam politik praktis.
Kyai di Persimpangan Jalan antara Pesantren dan Politik
Istilah Kyai dalam tataran masyarakat indonesia tidak hanya bermakna ahli dalam agama tetapi jika ditinjau dari makna antropologis bahwa kyai adalah orang yang mampu dalam segala tataran masalah kehidupan sekaligus juga sebagai kontrol sosial, dari ahli agama sampai ahli cocok tanam. Kyai bagi masyarakat adalah orang pilih tanding.
Pesantren merupakan lembaga non formal tertua dalam tradisi pendidikan agama islam di indonesia, dimana pesantren tempat membina, mendidik santri sehingga mampu dan ahli dalam agama sekaligus menjadi manusia yang memanusiakan manusia (Pakuhumanika).Selain itu, pesantren mampu menjadi agen perubahan sosial dalam pembangunan masyarakat. Hal tersebut semata-mata karena kedekatannya dengan masyarakat akar rumput dan sampai sekarangpun pesantren tetap menarik untuk diteliti dan dikaji.