<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>:. idhamhalil .: &#187; radar madura</title>
	<atom:link href="http://idhamhalil.web.id/tag/radar-madura/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://idhamhalil.web.id</link>
	<description>d@eng m@kassik</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Jan 2012 11:41:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Menanggapi Buku Kiai di Tengah Pusaran Politik, antara Petaka dan Kuasa</title>
		<link>http://idhamhalil.web.id/menanggapi-buku-kiai-di-tengah-pusaran-politik-antara-petaka-dan-kuasa</link>
		<comments>http://idhamhalil.web.id/menanggapi-buku-kiai-di-tengah-pusaran-politik-antara-petaka-dan-kuasa#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 07:28:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idham Halil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teras Diri]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[khittah]]></category>
		<category><![CDATA[kyai]]></category>
		<category><![CDATA[nu]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[radar madura]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idhamhalil.web.id/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Bebarapa hari yang lalu di Radar Madura (Jawa Pos) kita disuguhkan berita pembangkaran buku Kiai di Tengah Pusaran Politik, antara Petaka dan Kuasa karya Ibnu Hajar yang dilakukan oleh kalangan pondok pesantren yang kontra dengan buku tersebut. Kemarahan santri dan mahasiswa itu disampaikan dalam aksi turun jalan yang dilakukan oleh Aliansi Mahasiswa Peduli Kyai (AMPK) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;">Bebarapa hari yang lalu di Radar Madura (Jawa Pos) kita disuguhkan berita  pembangkaran buku Kiai di Tengah Pusaran Politik, antara Petaka dan Kuasa karya  Ibnu Hajar yang dilakukan oleh kalangan pondok pesantren yang kontra dengan buku  tersebut.</div>
<div class="fullpost">
<div style="text-align: justify;">Kemarahan santri dan mahasiswa itu disampaikan  dalam aksi turun jalan yang dilakukan oleh Aliansi Mahasiswa Peduli Kyai (AMPK)  Sumenep, yang ditempatkan di Taman Adipura depan Masjid Agung Sumenep. Massa  tidak saja menghujat penulis buku dengan poster, tetapi juga membakar buku  terbitan IRCiSod, Yogyakarta itu.</div>
<div style="text-align: justify;"><span id="more-25"></span></div>
<div style="text-align: justify;">Komunitas kiai merupakan sesuatu yang sangat  khas dalam masyarakat khususnya NU. Mereka bukan saja menjadi panutan dalam  kehidupan beragama, tetapi juga dalam kehidupan sosial yang lain, termasuk dalam  kehidupan politik. Dalam istilah Peter L Berger (1991) mereka mempunyai hubungan  dialektis dengan masyarakat di sekitarnya. Artinya, di satu pihak kiai merupakan  produk struktur sosial, namun di lain pihak kiai juga mempunyai peran untuk  membentuk struktur sosial. Dengan demikian,dalam perspektif Berger, terdapat  hubungan timbal balik antara kiai dan struktur masyarakat di sekitarnya.  Masalahnya kemudian adalah bagaimana bentuk dialektika antara kiai, politik dan  masyarakat pada saat ini.</div>
<div style="text-align: justify;">Bagaimanapun Kiai adalah pengemban amanah dari  nabi yang nota bene mempunyai tanggung jawab dalam segi sosial dalam bahasa  kerennya Kiai adalah Social Contral dan urat nadi Penguatan Civil Society.  Begitu Ibnu hajar meluncurkan buku Kiai di Tengah Pusaran Politik ada sebagian  komunitas kiai (mungkin kiai politik) kebekaran jenggot dan menggugat lewat  pembakaran buku Kiai di Tengah Pusaran Politik, antara Petaka dan  Kuasa.</div>
<div style="text-align: justify;">Bagi saya sudah saatnya komunitas kiai NU  kembali ke khittahnya, kembali kebilik bilik santri mengajarkan tentang akhlakul  kharimah, mengedepankan fungsi kontrol sosialnya daripada terjun keranah politik  yang kita tahu penuh permainan licik dan culas, tetapi bukan berarti Kiai tidak  boleh berpolitik. yang perlu dikembangkan oleh komunitas Kiai (khususnya NU )  bukanlah <span style="font-style: italic;">“politik kekuasaan”</span> yang  cenderung menguntungkan para elitenya, melainkan yang jauh lebih fundamental  adalah <span style="font-style: italic;">“politik kewargaan”</span> yang coba  berjuang bagi terentasnya masyarakat islam khususnya warga NU dari belitan  penderitaan dan kemiskinan yang selama ini menderanya.</p>
<p>Untuk para kiai  janganlah larut dengan Arus Politik kembali ke Surau Surau bermunajahlah,  berzikirlah dengan tasbih jangan dengan HP dan Salut buat Ibnu Hajar yang telah  bisa menterjemahkan kegelisahan masyarakat lewat buku Kiai di Tengah Pusaran  Politik, antara Petaka dan Kuasa yang membakar buku tersebut mungkin ingin  bernostalgia dengan jaman ORDE BARU. Sekian dulu&#8230;&#8230;&#8230;</p></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idhamhalil.web.id/menanggapi-buku-kiai-di-tengah-pusaran-politik-antara-petaka-dan-kuasa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

