<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>:. idhamhalil .: &#187; sastra</title>
	<atom:link href="http://idhamhalil.web.id/tag/sastra/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://idhamhalil.web.id</link>
	<description>d@eng m@kassik</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Jan 2012 11:41:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>puisi jalaludin rumi</title>
		<link>http://idhamhalil.web.id/puisi-jalaludin-rumi</link>
		<comments>http://idhamhalil.web.id/puisi-jalaludin-rumi#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2011 03:56:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idham Halil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[jalaludin rumi]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idhamhalil.web.id/?p=656</guid>
		<description><![CDATA[Puasa Membakar Hijab Rasa manis yang tersembunyi, Ditemukan di dalam perut yang kosong ini! Ketika perut kecapi telah terisi, ia tidak dapat berdendang, Baik dengan nada rendah ataupun tinggi. Jika otak dan perutmu terbakar karena puasa, Api mereka akan terus mengeluarkan ratapan dari dalam dadamu. Melalui api itu, setiap waktu kau akan membakar seratus hijab. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://idhamhalil.web.id/wp-content/uploads/rumi.jpg" rel="lightbox[656]"><img class="alignleft size-medium wp-image-658" title="rumi" src="http://idhamhalil.web.id/wp-content/uploads/rumi-223x300.jpg" alt="" width="223" height="300" /></a>Puasa Membakar Hijab</strong></p>
<p>Rasa manis yang tersembunyi,</p>
<p>Ditemukan di dalam perut yang kosong ini!</p>
<p>Ketika perut kecapi telah terisi,</p>
<p>ia tidak dapat berdendang,</p>
<p>Baik dengan nada rendah ataupun tinggi.</p>
<p>Jika otak dan perutmu terbakar karena puasa,</p>
<p>Api mereka akan terus mengeluarkan ratapan dari dalam dadamu.</p>
<p>Melalui api itu, setiap waktu kau akan membakar seratus hijab.</p>
<p>Dan kau akan mendaki seribu derajat di atas jalan serta dalam hasratmu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span id="more-656"></span></p>
<p><strong>Disebabkan Ridha-Nya</strong></p>
<p>Jika saja bukan karena keridhaan-Mu,</p>
<p>Apa yang dapat dilakukan oleh manusia yang seperti debu ini</p>
<p>dengan Cinta-Mu?</p>
<p><strong>Letak Kebenaran</strong></p>
<p>Kebenaran sepenuhnya bersemayam di dalam hakekat,</p>
<p>Tapi orang dungu mencarinya di dalam kenampakan.</p>
<p><strong>Rahasia yang Tak Terungkap</strong></p>
<p>Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta),</p>
<p>Itu semua hanyalah kulit.</p>
<p>Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah</p>
<p>rahasia yang tak terungkapkan.</p>
<p><strong>Pernyataan Cinta</strong></p>
<p>Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam kata,</p>
<p>Kusimpan kasih-Mu dalam dada.</p>
<p>Bila kucium harum mawar tanpa cinta-Mu,</p>
<p>Segera saja bagai duri bakarlah aku.</p>
<p>Meskipun aku diam tenang bagai ikan,</p>
<p>Tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam lautan</p>
<p>Kau yang telah menutup rapat bibirku,</p>
<p>Tariklah misaiku ke dekat-Mu.</p>
<p>Apakah maksud-Mu?</p>
<p>Mana kutahu?</p>
<p>Aku hanya tahu bahwa aku siap dalam iringan ini selalu.</p>
<p>Kukunyah lagi mamahan kepedihan mengenangmu,</p>
<p>Bagai unta memahah biak makanannya,</p>
<p>Dan bagai unta yang geram mulutku berbusa.</p>
<p>Meskipun aku tinggal tersembunyi dan tidak bicara,</p>
<p>Di hadirat Kasih aku jelas dan nyata.</p>
<p>Aku bagai benih di bawah tanah,</p>
<p>Aku menanti tanda musim semi.</p>
<p>Hingga tanpa nafasku sendiri aku dapat bernafas wangi,</p>
<p>Dan tanpa kepalaku sendiri aku dapat membelai kepala lagi.</p>
<p><strong>Hati Bersih Melihat Tuhan</strong></p>
<p>Setiap orang melihat Yang Tak Terlihat</p>
<p>dalam persemayaman hatinya.</p>
<p>Dan penglihatan itu bergantung pada seberapakah</p>
<p>ia menggosok hati tersebut.</p>
<p>Bagi siapa yang menggosoknya hingga kilap,</p>
<p>maka bentuk-bentuk Yang Tak Terlihat</p>
<p>semakin nyata baginya.</p>
<p><strong>Kesucian Hati</strong></p>
<p>Di manapun, jalan untuk mencapai kesucian hati</p>
<p>ialah melalui kerendahan hati.</p>
<p>Maka dia akan sampai pada jawaban “Ya” dalam pertanyaan</p>
<p>Bukankah Aku Tuhanmu?</p>
<p><strong>Memahami Makna</strong></p>
<p>Seperti bentuk dalam sebuah cermin, kuikuti Wajah itu.</p>
<p>Tuhan menampakkan dan menyembunyikan sifat-sifat-Nya.</p>
<p>Tatkala Tuhan tertawa, maka akupun tertawa.</p>
<p>Dan manakala Tuhan gelisah, maka gelisahlah aku.</p>
<p>Maka katakana tentang Diri-Mu, ya Tuhan.</p>
<p>Agar segala makna terpahami, sebab mutiara-mutiara</p>
<p>makna yang telah aku rentangkan di atas kalung pembicaraan</p>
<p>berasal dari Lautan-Mu.</p>
<p><strong>Tuhan Hadir dalam Tiap Gerak</strong></p>
<p>Tuhan berada dimana-mana.</p>
<p>Ia juga hadir dalam tiap gerak.</p>
<p>Namun Tuhan tidak bisa ditunjuk dengan ini dan itu.</p>
<p>Sebab wajah-Nya terpantul dalam keseluruhan ruang.</p>
<p>Walaupun sebenarnya Tuhan itu mengatasi ruang.</p>
<p><strong>Lihatlah yang Terdalam</strong></p>
<p>Jangan kau seperti iblis,</p>
<p>Hanya melihat air dan lumpur ketika memandang Adam.</p>
<p>Lihatlah di balik lumpur,</p>
<p>Beratus-ratus ribu taman yang indah!</p>
<p><strong>Keterasingan di Dunia</strong></p>
<p>Mengapa hati begitu terasing dalam dua dunia?</p>
<p>Itu disebabkan Tuhan Yang Tanpa Ruang,</p>
<p>Kita lemparkan menjadi terbatasi ruang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idhamhalil.web.id/puisi-jalaludin-rumi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sapardi Djoko Damono</title>
		<link>http://idhamhalil.web.id/puisiku</link>
		<comments>http://idhamhalil.web.id/puisiku#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 02:29:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idham Halil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[sapardi djoko damono]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idhamhalil.web.id/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Aku Ingin Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada Kuterka Gerimis Kuterka gerimis mulai gugur Kaukah yang melintas di antara korek api dan ujung rokokku sambil melepaskan isarat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Aku Ingin</strong><br />
<strong></strong>Aku ingin mencintaimu dengan sederhana<br />
dengan kata yang tak sempat diucapkan<br />
kayu kepada api yang menjadikannya abu<br />
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana<br />
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan<br />
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada</p>
<p><span id="more-85"></span></p>
<p><strong> Kuterka Gerimis</strong><br />
Kuterka gerimis mulai gugur<br />
Kaukah yang melintas di antara korek api dan ujung rokokku<br />
sambil melepaskan isarat yang sudah sejak lama kulupakan kuncinya itu<br />
Seperti nanah yang meleleh dari ujung-ujung jarum jam dinding yang berhimpit ke atas itu<br />
Seperti badai rintik-rintik yang di luar itu..<br />
Hatiku Selembar Daun<br />
Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput<br />
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini<br />
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput<br />
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.</p>
<p><strong> Bunga 1</strong></p>
<p>(i)<br />
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.<br />
Ia rekah di tepi padangwaktu hening pagi terbit<br />
siangnya cuaca berdenyut ketikanampak sekawanan gagak terbang berputar-putar di atas padang itu<br />
malam hari ia mendengar seru serigala.<br />
Tapi katanya, “Takut? Kata itu milik kalian saja, para manusia.<br />
Aku ini si bunga rumput, pilihan dewata!”</p>
<p>(ii)<br />
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.<br />
a kembang di sela-selageraham batu-batu gua pada suatu pagi, dan malamnya menyadari bahwa tak nampak apa pun dalam gua itu dan udara ternyata sangat pekat dan tercium bau sisa bangm dan terdengar seperti ada embik terpatah dan ia membayangkan hutan terbakar dan setelah api ….<br />
Teriaknya, “Itu semua pemandangan bagi kalian saja, para manusia! Aku ini si bunga rumput: pilihan dewata!”</p>
<p><strong>Bunga 2</strong></p>
<p><strong></strong>Mawar itu tersirap dan hampir berkata jangan ketika pemilik<br />
taman memetiknya hari ini; tak ada alasan kenapa ia ingin berkata<br />
jangan sebab toh wanita itu tak mengenal isaratnya — tak ada<br />
alasan untuk memahami kenapa wanita yang selama ini rajin<br />
menyiraminya dan selalu menatapnya dengan pandangan cinta itu<br />
kini wajahnya anggun dan dingin, menanggalkan kelopaknya<br />
selembar demi selembar dan membiarkannya berjatuhan menjelma<br />
pendar-pendar di permukaan kolam</p>
<p><strong> Bunga 3</strong></p>
<p>Seuntai kuntum melati yang di ranjang itu sudah berwarna coklat ketika tercium udara subuh dan terdengar ketukan di pintu<br />
tak ada sahutan<br />
seuntai kuntum melati itu sudah kering: wanginya mengeras di empat penjuru dan menjelma kristal-kristal di udara ketika terdengar ada yang memaksa membuka pintu<br />
lalu terdengar seperti gema “hai, siapa gerangan yang telah membawa pergi jasadku?”..</p>
<p><strong> Sajak Kecil Tentang Cinta</strong><br />
<strong></strong>mencintai angin harus menjadi siut<br />
mencintai air harus menjadi ricik<br />
mencintai gunung harus menjadi terjal<br />
mencintai api harus menjadi jilat<br />
mencintai cakrawala harus menebas jarak<br />
mencintaiMu harus menjadi aku</p>
<p><strong> Pada Suatu Hari Nanti</strong><br />
<strong></strong>pada suatu hari nanti<br />
jasadku tak akan ada lagi<br />
tapi dalam bait-bait sajak ini<br />
kau takkan kurelakan sendiri<br />
pada suatu hari nanti<br />
suaraku tak terdengar lagi<br />
tapi di antara larik-larik sajak ini<br />
kau akan tetap kusiasati<br />
pada suatu hari nanti<br />
impianku pun tak dikenal lagi<br />
namun di sela-sela huruf sajak ini<br />
kau takkan letih-letihnya kucari</p>
<p><strong> Hutan Kelabu</strong><br />
<strong></strong>kau pun kekasihku<br />
langit di mana berakhir setiap pandangan<br />
bermula kepedihan rindu itu<br />
temaram kepadaku semata<br />
memutih dari seribu warna<br />
hujan senandung dalam hutan<br />
lalu kelabu menabuh nyanyian</p>
<p><strong> Hujan Bulan Juni</strong><br />
<strong></strong>tak ada yang lebih tabah<br />
dari hujan bulan juni<br />
dirahasiakannya rintik rindunya<br />
kepada pohon berbunga itu<br />
tak ada yang lebih bijak<br />
dari hujan bulan juni<br />
dihapusnya jejak-jejak kakinya<br />
yang ragu-ragu di jalan itu<br />
tak ada yang lebih arif<br />
dari hujan bulan juni<br />
dibiarkannya yang tak terucapkan<br />
diserap akar pohon bunga itu</p>
<p><strong> Dalam Diriku</strong><br />
dalam diriku mengalir<br />
sungai panjang<br />
darah namanya…<br />
dalam diriku menggenang<br />
telaga darah<br />
sukma namanya…<br />
dalam diriku meriak<br />
gelombang suara<br />
hidup namanya…<br />
dan karena hidup itu indah<br />
aku menangis sepuas-puasnya…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idhamhalil.web.id/puisiku/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

